
Dengan Teknik CPR Semua Orang Bisa Bantu Menyelamatkan Korban Henti Jantung - Henti jantung berbeda dengan penyakit jantung koroner atau yang biasa dikenal dengan nama serangan jantung. Serangan jantung merupakan kondisi fatal ketika jantung tidak menerima cukup aliran oksigen dari aliran darah karena penyumbatan pembuluh darah arteri. Kondisi ini terjadi perlahan dan biasanya didahului dengan sesak nafas dan denyut jantung yang semakin melemah.
Menurut dr. Jetty Sedyawan, dokter spesialis jantung pembuluh darah, “Biasanya orang menyamaratakan semuanya. Pada kasus henti jantung kematiannya mendadak dan tidak memiliki gejala apapun”. Henti jantung menyebabkan 50 persen kematian pada penderita. Selebihnya kualitas hidupnya menurun karena kerusakan pada otak. Saat jantung berhenti berdetak, ia akan kehilangan kemampuan untuk memompa darah dan mengalirkan oksigen ke otak. Akibatnya otak jadi kekurangan suplai darah dan oksigen sehingga dapat mengalami kerusakan.
Hal ini dikarenakan orang sekitar korban tidak mengetahui penyelamatan pertama pada pasien henti jantung. Biasanya mereka memilih menunggu tenaga medis untuk membantu korban. Sebenarnya kematian ataupun kerusakan organ akibat henti jantung dapat dicegah. Tiga menit pertama setelah korban mengalami henti jantung adalah waktu emas mencegah kerusakan otak.
Jantung dapat diberikan stimulus supaya tetap berdetak. Lalu 7 menit setelahnya adalah waktu emas untuk menyelamatkan nyawa korban. Setiap satu menit terlewat, maka korban akan kehilangan 10 persen kesempatan hidupnya. Seperti yang dikatakan dokter Jetty, di Amerika yang sudah melek pertolongan pertama pun hanya mampu menolong 17 persen korban. Di Indonesia, kebanyakan korban meninggal karena tidak ada yang menolong.
Ketidak mampuan memberikan pertolongan pertama membuat korban henti jantung bergantung pada pertolongan medis. Dan fakta ini diungkap oleh dr. Erizon Safari, MKK kepala Unit Ambulans Gawat Darurat (AGD) dari dinas kesehatan DKI Jakarta. Setiap bulan AGD menerima 3.500 telepon untuk menangani kondisi gawat darurat. Dan sebanyak 10 persennya atau 350 panggilan merupakan permintaan pertolongan jantung kritis.
Diharapkan siapapun bisa menolong. Karena apapbila menunggu respon dari luar si korban akan sedikit kesempatannya untuk bisa tertolong. Kondisi dengan kurangnya pengadaan Defibrilator Eksternal Otomatis (AED) di tempat publik. Dan masyarakat pun masih belum terbiasa menggunakan alat tersebut untuk menolong korban henti jantung. Permasalahkan selanjutnya yang perlu diselesaikan adalah kesiapan mental penolong. Masih banyak yang berpikir, tanpa tim medis tindakan pertolongan pada korban akan menimbulkan resiko.
Apa hal pertama yang akan Anda lakukan saat melihat seseorang tergeletak tidak sadarkan diri di jalan? Rata-rata orang hanya akan melihat korban. Paling banter, menolong dengan memindahkan korban ke tempat aman, selebihnya menunggu bantuan dari petugas medis. Padahal, harapan hidup korban henti jantung akan meningkat ketika orang di sekitar korban melek pertolongan pertama.
Caranya yaitu dengan melakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung-paru, usaha untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi akibat denyut jantung berhenti mendadak. Vani Purbayu, seorang instruktor First Aid di Paramedic Medic One menjelaskan, CPR dapat diberikan sebagai pertolongan pertama pada setiap orang yang mengalami henti napas secara tiba-tiba. Baik itu henti jantung, tersedak, tenggelam, tersambar petir, atau kecelakaan lainnya yang menyebabkan korban tidak bernapas.
Langkah pertama yang perlu diperhatikan penolong pertama untuk melakukan CPR adalah melihat situasi dan kondisi sekitar. Pastikan keamanan diri, korban, dan masyarakat sekitar terjamin. Hal ini sangat penting agar si penolong tidak terkena bahaya dan tidak ikut menjadi korban.
Selanjutnya, first aider harus mengecek kesadaran korban dengan mengajak bicara dan menepuk kedua pundaknya. Jika tidak ada respon, mintalah bantuan orang sekitar untuk memanggil ambulans, mengambil P3K dan AED. Sementara menunggu bantuan datang, lakukan pengecekan pada napas korban. Caranya dengan mengamati pergerakan dada selama 10 detik. Jika dada terlihat tidak bergerak, maka lakukan CPR dengan menekan bagian tengah dada sebanyak 30 kali dengan cepat, kira-kira 2 kali tekanan dalam 1 detik. Kedalaman penekanan kira-kira 5 sampai 6 cm atau setengah tebal badan korban. Selingi setiap gerakan 30 penekanan dengan memberi nafas buatan sebanyak 2 kali ( setiap napas 1 detik), caranya tengadahkan kepala korban dan tutup saluran napas (hidung) dengan satu tangan dan tiup mulut korban.
“ Cara tersebut dilakukan hingga AED atau tim medis datang”
Semua orang seharusnya bisa jadi penolong korban henti jantung, termasuk saya dan Anda.
Pendidikan 5 Apr 2025
Persiapan Esai dan Wawancara Beasiswa BUMN: Panduan Anti Gagal
Mendapatkan beasiswa adalah impian banyak mahasiswa, terutama Beasiswa BUMN yang menawarkan peluang besar untuk belajar dan mengembangkan diri. Untuk
Pendidikan 5 Maret 2025
Kekuatan Media Sosial dalam Politik Semakin Tak Terbendung, Anda Tidak Akan Percaya Dampaknya!
Dalam era digital saat ini, kekuatan media sosial dalam politik semakin tak terbendung. Platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan TikTok telah menjadi
Ilmu Marketing 6 Apr 2025
Konten Sepi? Saatnya Gunakan Jasa View Sekarang Juga!
Setiap pembuat konten pasti ingin agar karyanya mendapatkan perhatian yang layak. Namun, dalam dunia digital yang semakin padat, menghadirkan konten yang
Pendidikan 5 Maret 2025
Bimbel Online Kedinasan vs. Bimbel Konvensional: Mana yang Lebih Efektif?
Persiapan menghadapi seleksi sekolah kedinasan menjadi tantangan bagi banyak calon peserta. Untuk itu, bimbingan belajar (bimbel) menjadi pilihan utama dalam
Ilmu Marketing 10 Des 2025
Formula Marketing UMKM Efektif yang Mampu Mengoptimalkan Pertumbuhan Bisnis
Marketing UMKM efektif menjadi kebutuhan dasar bagi setiap pelaku usaha yang ingin memperkuat daya saing dan memperluas jangkauan pasar. Di tengah perubahan
Ilmu Marketing 6 Maret 2025
Rahasia Akun Sosmed Bisnis yang Sukses: Lakukan Langkah Ini!
Dalam era digital saat ini, media sosial (sosmed) telah menjadi tulang punggung bagi banyak bisnis yang ingin berkembang. Namun, agar akun sosmed bisnis dapat